Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha pengasih dan maha penolong!
Terima kasih kepada Para Buddha dan Dewa Pelindung Dharma dari seluruh penjuru!
Terima kasih kepada Master Jun Hong Lu!
Terima kasih kepada semua saudara se-dharma!
Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam postingan kami, kami memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, para Dewa dan Pelindung Dharma memaafkan, Master Jun Hong Lu memaafkan, mohon saudara-saudara dan teman-teman se-Dharma memaafkan.
... Baca selengkapnyaSejak pertama kali menyiapkan altar Buddha di rumah, aku sering bingung dengan hal-hal kecil seputar persembahan. Ternyata detail seperti cara menaruh buah, memilih vas, bahkan menyimpan buah di kulkas itu penting banget. Jadi aku rangkum pengalaman dan jawaban yang pernah aku pelajari, supaya teman-teman yang baru mulai praktik juga bisa terbantu.
Tentang buah persembahan, dulu aku pernah iseng taruh buah di papan pijakan motor karena kehabisan tempat. Ternyata ini kurang cocok, karena tempat itu dianggap kurang bersih dan kurang menghormati Buddha dan Bodhisattva. Sejak itu, kalau bawa buah untuk altar, aku usahakan taruh di tas atau keranjang yang lebih layak, bukan di lantai atau papan pijakan motor.
Soal kulkas, aku juga pernah simpan buah persembahan bareng bahan makanan non-vegetarian. Belakangan baru paham bahwa sebaiknya buah persembahan tidak dicampur dengan daging, seafood, dan sejenisnya agar tetap bersih secara makna. Kalau terpaksa, aku bungkus rapi dan taruh di rak terpisah, lalu sebelum dipersembahkan aku lap dan niatkan baik-baik.
Ada juga pengalaman waktu buah anggur persembahan di altar dimakan anak kecil tanpa sengaja. Daripada marah, aku diajarkan untuk tetap tenang dan melafalkan Li Fo Da Chan Hui Wen 5 kali, sambil memohon maaf atas ketidaksengajaan tersebut. Bagi aku, ini mengingatkan bahwa latihan batin dan welas asih itu lebih penting daripada sekadar buahnya.
Untuk buah persembahan bagi orang yang sudah meninggal, aku juga sempat bertanya apakah boleh dimakan setelahnya. Jawaban yang aku dapat: tidak disarankan dimakan. Jadi biasanya buah itu aku alihkan untuk dibuang dengan cara yang pantas, atau aku niatkan sebagai pelepasan, bukan untuk konsumsi keluarga.
Ada juga aturan khusus soal jenis buah. Dari yang aku pelajari, buah persik dan pisang sebaiknya tidak dipersembahkan kepada Bodhisattva. Karena itu, aku lebih sering memilih apel, pir, jeruk, atau anggur yang segar dan tidak memar. Selain itu, buah jatuh ke lantai atau buah palsu juga tidak cocok dijadikan persembahan, karena dianggap kurang hormat.
Buat teman-teman yang punya bambu rejeki di altar, aku biasanya rutin merapikan daun yang menguning dan mengganti airnya. Saat merapikan, aku sambil melafalkan Xin Jing beberapa kali dan berniat membersihkan dengan hati yang khusyuk. Rasanya altar jadi lebih segar dan rapi.
Untuk vas bunga, dulu aku pakai vas kaca transparan karena kelihatan cantik. Tapi setelah tahu bahwa vas porselen atau yang tidak transparan lebih disarankan, aku ganti pelan-pelan. Katanya, ini lebih sopan dan lebih sesuai untuk altar. Bunga yang layu segera aku ganti, supaya altar tetap tampak hidup dan penuh rasa hormat.
Gelas air persembahan juga tidak kalah penting. Aku siapkan sabun dan sikat khusus yang hanya dipakai untuk gelas altar, tidak bercampur dengan peralatan makan sehari-hari. Setelah dicuci, aku keringkan dan isi air bersih sambil menenangkan pikiran. Buatku, proses kecil seperti ini membantu menjaga rasa syukur dan hormat setiap hari.
Semua ini aku jalani sambil terus belajar. Kalau masih ada kekurangan, aku juga memohon maaf kepada Buddha, Bodhisattva, dan para Pelindung Dharma. Mudah-mudahan sharing sederhana ini bisa jadi jawaban awal buat teman-teman yang mencari panduan persembahan altar Buddha di rumah dan ingin mempraktikkan dengan lebih benar dan penuh rasa hormat.