Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha pengasih dan maha penolong!
Terima kasih kepada Para Buddha dan Dewa Pelindung Dharma dari seluruh penjuru!
Terima kasih kepada Master Jun Hong Lu!
Terima kasih kepada semua saudara se-dharma!
Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam postingan kami, kami memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, para Dewa dan Pelindung Dharma memaafkan, Master Jun Hong Lu memaafkan, mohon saudara-saudara dan teman-teman se-Dharma memaafkan.
... Baca selengkapnyaAku dulu sering bingung setiap kali lihat hio terbakar dengan bentuk yang beda-beda di altar Buddha. Kadang hio cepat mati, kadang miring, kadang abu hio jatuh ke samping. Di grup belajar, banyak saudara se-dharma juga suka tanya: apa arti hio terbakar seperti itu? Apakah itu pertanda baik atau buruk?
Dari pengalaman pribadi dan sharing para senior, pelan-pelan aku paham bahwa arti hio terbakar tidak bisa dilepaskan dari kondisi hati kita sendiri. Dupa (hio) adalah media untuk menyampaikan rasa hormat dan permohonan kepada Buddha dan Bodhisattva. Kalau saat menyalakan hio pikiran kita kalut, marah, atau tidak sungguh-sungguh, biasanya nyala hio juga kurang stabil. Jadi sebelum menyalakan hio, aku sekarang membiasakan diri untuk menenangkan pikiran dulu, baca paritta sebentar, baru kemudian memasang hio.
Ada yang bilang kalau hio terbakar miring atau cepat habis itu pertanda Bodhisattva tidak senang. Dari yang aku pelajari, kita jangan langsung menyimpulkan yang negatif. Bisa jadi faktor teknis: hio terlalu dekat, tempat abu dupa terlalu keras, atau abu belum diratakan. Di foto-foto yang sering dibagikan, meratakan abu dupa saja sudah dianggap satu jasa kebajikan, karena itu melambangkan kita merapikan pikiran dan membuat altar lebih bersih dan layak.
Aku juga mulai perhatikan faktor fisik: kalau abu hio sudah penuh dan tidak diratakan, hio jadi susah berdiri tegak, akhirnya terbakar miring. Sejak rutin meratakan abu dupa dengan hati-hati, hio jadi lebih lurus dan terbakar lebih stabil. Dari sini aku belajar bahwa praktik di altar bukan cuma soal “tanda-tanda gaib”, tapi juga kedisiplinan dan ketulusan dalam menjaga altar.
Soal pelita minyak di altar, aku pernah baca penjelasan bahwa mempersembahkan pelita di depan Buddha bisa membuat mata terang dan jantung sehat, dan pelita di altar diibaratkan sebesar Gunung Sumeru dengan minyak sebanyak air lautan. Itu membuatku sadar bahwa setiap kali menambah minyak pelita, kita sebenarnya sedang menambah kebijaksanaan dan menerangi kegelapan batin sendiri. Jadi kalau hio terbakar kurang bagus, aku sekarang lebih memilih memperbaiki hati, sikap, dan kebiasaan di altar, daripada sibuk menafsirkan hal yang menakutkan.
Ada juga hal-hal kecil yang dulu kuanggap sepele, ternyata penting. Misalnya, saringan abu dupa yang sudah dipakai tidak boleh digunakan untuk hal lain. Gelas air dan tempat dupa sebaiknya tidak berwarna merah, dan air yang boleh disebut "Da Bei Shui" hanyalah air yang sudah dipersembahkan di altar kepada Bodhisattva. Bahkan soal air mineral bersoda, ternyata tidak boleh dipersembahkan karena mengandung gas. Dari sini aku belajar menghormati altar seperti kita menghormati tamu agung: semua harus bersih, layak, dan pantas.
Tentang memutar paritta Da Bei Zhou di dekat altar, aku sempat ingin menaruh speaker kecil di atas altar. Tapi dari penjelasan yang pernah kubaca, lebih baik diletakkan di samping altar saja dengan volume kecil, supaya tetap penuh rasa hormat. Hal-hal detail seperti ini mungkin terlihat sederhana, tapi jika digabungkan dengan cara kita melihat arti hio terbakar, semuanya kembali ke satu poin: apakah kita sungguh-sungguh tulus, penuh rasa terima kasih, dan mau memperbaiki diri.
Sekarang, ketika melihat hio terbakar tidak sempurna, aku tidak langsung panik. Aku cek dulu: apakah abu dupa sudah diratakan, apakah hio terlalu rapat, apakah ruangan ada angin kencang. Setelah itu, aku berdoa dalam hati, mohon maaf kepada Buddha dan Bodhisattva atas kekurangan dan kebodohan diri, lalu bertekad memperbaiki perbuatan, ucapan, dan pikiran. Menurutku, inilah arti terdalam dari semua "tanda" di altar: mengingatkan kita untuk terus berlatih dan rendah hati.