Bram berjalan mendekat. Alina menahan napas. Pria
Bram melangkah keluar menuju mobilnya. Hujan sudah reda. Dia mengeluarkan ponselnya, mengecek CCTV di kamar utama Mansion-nya.
Di layar kecil itu, dia melihat Alina sedang tertidur meringkuk di atas sofa, bukan di ka sur, masih memakai gaun pengantinnya. Dia terlihat begitu kecil dan rapuh.
Ada rasa nyeri yang aneh di dada Bram. Dia pem bun uh, pen yik sa, mon ster. Tapi melihat wanita itu tidur sendirian menunggunya, dia merasa ingin pulang.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Alina terbangun karena suara pintu kamar yang terbuka. Dia mengerjap, matanya yang bengkak menyesuaikan cahaya redup lampu tidur.
Sosok tinggi besar berdiri di ambang pintu. Siluetnya gelap. Alina sontak duduk tegak, jantungnya berpacu.
"Bram?"
Pria itu melangkah masuk. Dia sudah tidak memakai kemeja ber da rah tadi, melainkan kaos hitam polos yang mencetak bentuk tubuhnya. Rambutnya basah, aroma sabun mint menguar segar, tapi Alina bersumpah dia masih bisa men cium bau samar ke ma tian yang menempel di aura pria itu.
"Kenapa tidur di sofa?" tanya Bram datar. Dia berjalan menuju meja rias, meletakkan jam tangannya.
"Saya... saya tidak berani tidur di kasur Anda. Terlalu besar. Dan saya takut mengotori seprai dengan gaun ini."
Bram menoleh. Dia menatap Alina dari ujung kepala sampai kaki.
"Itu kasur kita, Alina. Dan kau istriku. Kau boleh mengotorinya semaumu."
Bram berjalan mendekat. Alina menahan napas. Pria itu terlihat lelah. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya. Sisi manusiawi dari sang monster mulai terlihat.
"Apa kau sudah makan?" tanya Bram.
Alina menggeleng. "Tidak nafsu."
"Besok kau harus makan. Aku tidak mau punya istri yang pingsan saat acara resepsi minggu depan."
Bram duduk di tepi sofa, tepat di sebelah Alina. Jarak mereka hanya satu jengkal. Alina bisa merasakan hawa panas tubuh Bram.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Bram tiba-tiba. Instingnya tajam. Dia melihat kegelisahan di mata Alina. Dia melihat bagaimana tangan Alina terus meremas tas kecil di pangkuannya.
Alina menelan ludah. Haruskah aku memberitahunya? Kalau aku kasih tahu, dia akan memvbun uh orang lagi. Tapi kalau tidak, dia bisa ma ti.
"Tadi... ada pesan masuk ke ponsel saya," cicit Alina pelan.
Mata Bram menyipit. "Pesan apa?"
Dengan tangan gemetar, Alina mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Bram.
Bram membaca pesan itu. Dia melihat foto candid mereka di rumah sakit. Wajahnya yang tadi sedikit rileks, kini kembali mengeras seperti batu karang. Rahangnya mengetat hingga terdengar bunyi gigi gemerutuk.
Bukan karena takut. Tapi karena marah.
Musuhnya sudah selangkah lebih maju. Mereka tidak hanya mengincar nya wanya, tapi mereka sudah menandai Alina.
"Siapa lagi yang melihat pesan ini?" tanya Bram dingin.
"Cuma saya."
Bram berdiri mendadak, membuat Alina tersentak kaget. Dia berjalan ke arah jendela, menatap kegelapan di luar sana.
"Mulai besok, kau tidak boleh keluar dari rumah ini selangkah pun tanpa izinku. Ponselmu akan diganti. Nomor lama dibuang."
"Tapi... siapa mereka, Bram? Kenapa mereka mem ben cimu?" tanya Alina putus asa.
Bram berbalik. Tatapannya gelap dan pekat.
"Mereka adalah orang-orang yang menginginkan posisiku. Dan sekarang, mereka tahu kelemahanku."
"Kelemahanmu?"
Bram berjalan kembali ke arah Alina, menunduk, lalu menangkup pipi wanita itu dengan satu tangan. Ibu jarinya mengusap bi bir bawah Alina yang gemetar.
"Ya. Kau. Kau adalah target berjalan karena kau memakai cincinku."
"Kalau begitu lepaskan aku! Ceraikan aku! Aku tidak mau ma ti konyol karena pe rang mu!" teriak Alina, air mata ketakutan akhirnya pecah.
Bram mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir ber sentu han. Suaranya rendah, berbahaya, namun posesif.
"Terlambat, Sayang. Kau sudah masuk ke dalam kandang singa. Sekali kau masuk, satu-satunya jalan keluar adalah kem ati an."
Bram menarik wajahnya, lalu berjalan menuju tempat tidur. Dia merebahkan dirinya dengan santai, seolah baru saja membicarakan cuaca.
"Tidurlah di sini. Di sampingku. Kalau kau tidur di sofa, aku tidak bisa menjagamu jika ada peluru nyasar masuk lewat jendela."
Alina mematung.
Alina akhirnya menyerah. Dengan langkah berat, dia naik ke ran jang raksasa itu. Dia berbaring di sisi paling ujung, memunggungi Bram, menyisakan jarak satu meter di antara mereka.
Lampu kamar dimatikan oleh Bram lewat remote. Gelap gulita.
Alina mendengar napas Bram yang mulai teratur. Pria itu tertidur dengan cepat. Tapi Alina tidak bisa memejamkan mata.
Tiba-tiba, sebuah tangan kekar melingkar di ping gang Alina. Menarik tubuh mungil itu mundur hingga punggung Alina menempel pada dada bidang yang keras dan hangat.
Alina tersentak, hendak berontak.
"Diam," gumam Bram dengan suara serak khas orang tidur. "Aku cuma me me luk. Dingin."
Alina membeku dalam pel ukan itu. Dia bisa merasakan detak jantung Bram di pung gungnya. Kuat dan tenang. Ironisnya, di dalam pelukan pria paling berbahaya di kota ini, untuk pertama kalinya sejak kabur dari rumah Johan, Alina merasa... aman.
Namun, rasa aman itu semu. Karena di bawah bantalnya, Alina melihat kilatan logam saat Bram tadi bergeser.
Pria itu tidur dengan pis tol di bawah kepalanya.
Dan Alina sadar, hidupnya baru saja dimulai di atas sehelai benang tipis antara cinta dan kem atian.
Judul ;Pelukan Sang Penguasa
Penulis ;Lilis Lestari
yuk baca kelanjutanya di kbm app






































































