THR SUAMIKU BUKAN UNTUKKU (KARENA AKU HANYA MENANTU) 3
Cuplikan bab 2 a
"Mbak Jihan! Sabun cuci mukaku mana? Kok enggak ada di ka mar mandi?"
Rena muncul di ambang pintu dapur dengan wajah merah padam. "Mbak! Aku ini nanya lho sama sampeyan. Sabun cuci mukaku yang harganya tiga ra tus ri bu itu, kenapa jadi enggak ada? Mbak sengaja nyembunyiin, ya? Iri, karena enggak bisa beli?"
Aku meletakkan pisau perlahan, lalu menoleh menatapnya. "Mbak sudah pindahin ke gudang tadi, Ren. Kan katanya, Mbak enggak boleh pakai barang-barang di rumah ini karena Mbak enggak ikut ba yar? Ya sudah, barangmu Mbak amanin, biar enggak terkontaminasi tangan pembantu kayak aku."
"Heh! Maksud Mbak itu, apa?" Rena berkacak pinggang, napasnya memburu karena sebal padaku.
"Bukannya kemarin kamu sendiri yang bilang, Mbak enak cuma di rumah, enggak kena debu, enggak panas-panasan?" Aku tersenyum tipis. "Karena di rumah terus, aku jadi enggak butuh sabun mahal itu. Tapi karena kamu meletakkannya di ka mar mandi yang airnya diba yar pakai u ang Mas Rafi… u ang yang harusnya juga ada hak aku di dalamnya, jadi aku rasa, barang itu nggak berhak punya tempat di sana. Tempat yang pas ya, di gudang itu. Tadinya sih, Mbak mau taruh sabun itu di bak sampah depan. Tapi berhubung Mbak masih baik hati… ya nggak jadi."
"Mas Rafi! Lihat Mbak Jihan, Mas! Dia berani ngelunjak, sekarang!" teriak Rena memanggil kakaknya yang baru saja keluar dari ka mar.
Mas Rafi datang dengan wajah mengantuk. "Ada apa lagi sih pagi-pagi? Ji, jangan mulai deh. Rena itu mau siap-siap berangkat kerja, jangan dipancing emosinya."
"Mas, sabun cuci mukaku disembunyiin! Padahal itu baru beli pakai u ang THR kemarin!" Rena mengadu sambil menghentakkan kakinya.
Aku menatap suamiku itu dengan datar. "U ang THR, ya? Yang lima ra tus ri bu dari Mas itu? Oh, jadi ternyata untuk itu…"
Mas Rafi berdehem canggung. "Itu... itu kan buat tambahan, Ji. Sudah. Kamu tinggal kasih tahu di mana sabunnya, apa susahnya sih, Ji..."
"Kan tadi udah aku bilang, ada di gudang. Di bawah tumpukan cucian kotor Rena yang belum aku cuci," jawabku santai. "Oh ya Mas, sekalian aku mau kasih tahu. U ang belanja yang Mas kasih kemarin, cuma cukup buat be li bahan sayur ketupat ini. Jadi, untuk sahur besok, Mas silakan kasih u ang tambahan lagi. Kecuali… kalau Mas mau kita sahur pakai busa sabun cuci mukanya Rena."
"Kok kamu jadi perhitungan banget sih, Ji?" Mas Rafi memijat pangkal hidungnya. "Biasanya juga cukup-cukup aja."
"Biasanya aku pakai u ang ta bunganku sendiri, Mas. Tapi ta bunganku sudah ludes, buat nutupi kekurangan u ang belanja bulan lalu karena Mas lebih milih ba yar iuran gym Roni," balasku tenang, namun aku tahu itu cukup telak baginya.
Rena mendengus kasar. "Halah, paling juga Mbak Jihan ja jan bakso di luar diam-diam. Mas, mending Mas Rafi tegas deh. Istri itu kalau didiamin makin ngelunjak. Masa aku harus ke gudang, cuma buat ambil sabun?"
"Ambil sendiri, Ren! Tanganmu enggak lumpuh, kan? Apa mau tanganmu aku pelintir?" potongku cepat.
Ibu Mertua tiba-tiba muncul dari arah ka mar sambil memegangi pinggangnya. "Oalah, Gusti... pagi-pagi sudah dengar suara ribut-ribut. Jihan, kamu itu mbaknya Rena, harusnya ngemong sama adik. Masa masalah sabun aja jadi ribut. Ibu lapar, mana ketupat sayurnya?"
"Belum matang, Bu. Kompornya habis gas. Tadi mau minta u ang ke Mas Rafi, tapi takut dibilang beban pikiran lagi," ujarku sambil mencuci tangan.
Mas Rafi mendesah frustrasi. Ia mengeluarkan dom petnya, mencari lembaran u ang. "Ini, sera tus ri bu. Buat be li gas sama sekalian beli obat Ibu yang kemarin Mas janjiin."
Aku menerima u ang itu dengan ujung jari. "Sera tus ri bu buat gas dan o bat Ibu yang harganya lima ra tus ri bu itu? Kurang empat ratus ribu lagi, Mas. Mau ambil dari amplop Rena atau amplop Rara?"
Bersambung…
Selengkapnya di KBM app
Judul : THR Suamiku Bukan Untukku (Karena Aku Hanya Menantu)





























































