BIARKAN AKU PERGI 11
11
Segera aku melajukan mobil ke kantor. Sudah sangat terlambat aku masuk kantor, meskipun aku sudah mengabarkan ke sekretaris atasanku kalau aku izin terlambat karena sedang banyak urusan yang harus diselesaikan.
Setelah duduk, aku kembali mencoba menghubungi Fahira. Sayangnya, nomornya sudah tidak aktif.
Menyesal juga selama ini aku tak pernah berkenalan dengan satupun temannya. Sehingga aku tak bisa mengorek informasi apapun tentang Fahira.
Kubuka akun medsos yang sudah lama tak pernah aku singgahi. Dalam hati, aku berharap menemukan jejak Fahira di sana.
Sial! Bukan jejak Fahira yang kudapatkan, tapi sebuah fakta mengejutkan. Fahira memencet tombol like pada fotoku dengan Nabila yang diposting di akun Nabila dan ditandai pada akunku.
Ya Tuhan.....Mendadak, kepalaku menjadi pening.
Fahira, maafkan aku.
Ternyata dia telah mengetahui semuanya....
Aku segera keluar dari ruangan. Aku benar-benar tak bisa konsentrasi. Kuputuskan untuk pergi ke kantin mencari kopi panas. Mungkin segelas kopi bisa sedikit meredakan emosi.
Teringat kopi panas, aku jadi ingat Fahira yang rajin menemaniku sarapan pagi. Tadi pagi adalah hari pertamaku ke kantor tanpa Fahira. Dan tentu saja aku tak mencium aroma kopi buatannya dengan coffeemaker di dapur rumahku. Bahkan saat aku berangkat, Nabila dan mama papanya belum ada yang beranjak keluar kamar.
Asap kopi itu masih mengepul saat pegawai kantin meletakkan cangkir di mejaku. Belum sempat aku sesap, tiba-tiba, ponselku bergetar.
Sebenarnya, aku berharap Fahira yang meneleponku dan mengabarkan dia ada di mana, sehingga aku bisa menjemputnya. Aku kangen mengantar dan menjemputnya di kantor. Mungkin tak akan pernah lagi karena dia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Mas, kami lapar. Tidak ada makanan.” Rupanya Nabila yang meneleponku.
Ingin rasanya aku membanting ponsel ini. Hanya urusan sarapan saja, mengapa harus meneleponku. Bukannya dia tahu kalau aku sedang bekerja? Bukannya dia tahu kemana harus mencari makanan? Toh, sekarang bisa memesannya secara online jika tak ingin keluar rumah?
Tut tut tut. Kututup panggilan secara sepihak tanpa ada keinginan untuk menjawabnya. Aku sudah lelah. Baru dua hari saja sudah menguras energiku. Bagaimana jika seminggu, sebulan, setahun, bahkan seumur hidup?
Tiba-tiba bayangan Fahira kembali berkelebat. Wanita yang tak pernah merepotkanku. Bahkan, jika mau belanja saja, dia hanya bertanya apakah aku bisa mengantarkannya, atau dia akan berangkat sendiri.
“Melamun?”
Aku menoleh ke sumber suara. Faisal!
Aku sebenarnya enggan berdekatan dengannya. Dia selalu saja mencampuri urusanku. Aku tahu aku masih punya ikatan saudara dengannya. Tapi, setidaknya dia harus menjaga privasiku dibanding mengurusiku.
Sewaktu aku dekat kembali dengan Nabila, bukan sekali dua kali dia mengingatkanku. Tapi, aku tak mempedulikannya. Apalagi alasannya kalau bukan karena dia belum pernah merasakan posisi yang sama denganku. Posisi ditinggalkan mantan yang sangat dicintainya. Bukankah dengan kembalinya sang mantan itu menunjukkan benar kata pepatah, "Kalau jodoh tak akan kemana?”
“Aku tahu kamu mencari Fahira.” Faisal dengan jumawa melirik sekilas ke arahku.
Aku mengerutkan kening. Dari mana dia tahu? Apakah dia membuntutiku. Atau justru dia membuntuti Fahira?
Aku sangat kesal dengannya. Andai ini bukan di kantor, tepatnya kantin kantor, aku pasti sudah menghajarnya. Karena dia lah satu-satunya yang tak pernah membiarkanku hidup bahagia.
“Kamu tinggalkan dia demi mendapatkan mantanmu? Bodoh!” ujarnya sambil bangkit dari kursi dan meninggalkanku.
BERSAMBUNG
Baca selengkapnya di KBM app
Judul: BIARKAN AKU PERGI
Nama penulis: ET. Widyastuti






















































