Matanya terpaku pada layar LED besar di atas panggung. Menampilkan close-up sepasang kekasih yang tengah tersenyum, saling memandang, lalu sang pria m e n c i u m tangan wanita itu dengan kelembutan yang terasa tulus—dan sangat… familiar.
Anya nyaris k e h i l a n g a n n a p a s.
W a j a h wanita itu…
Terlihat sangat… sangat mirip dirinya.
Dalam sekejap, d a r a hnya m e m b e k u. Ia menunduk, mencoba menstabilkan n a p a s. Tapi suara dari dua tamu pria di belakangnya m e n g o y a k ketenangannya.
“Indra akhirnya nikah sama Lita. Mereka p u t u s sepuluh tahun lalu, gara-gara Ajiknya nggak setuju.”
“Iya, pantesan dia nggak pernah keliatan dekat sama cewek lain. Ternyata selama ini masih setia nungguin Lita balik dari Meulborne.”
Anya m e n g g i g i t b i b i rnya.
Sepuluh tahun? Itu berarti dua tahun sebelum ia dan Indra mulai dekat.
Jadi... selama delapan tahun terakhir, dia adalah… apa?
***
“Kamu Lavanya, ya? Asisten Indra yang katanya mirip aku itu?”
Anya berbalik perlahan. Menunduk sopan.
“Selamat malam, Bu. Iya, saya asisten Pak Indra.”
Lalita mendekat, tersenyum sambil memiringkan kepala. Tatapannya menelisik dari ujung rambut sampai sepatu Anya.
“Wah... mukamu beneran mirip mukaku, ya.” Ia terkekeh kecil. “Pantes aja Indra bisa tahan lama kerja bareng kamu.”
Lalu ia menyikut lengan kekasihnya. “Yang, bener ya kata orang-orang? Asisten kamu mirip banget sama aku. Tapi menurut kamu gimana? Mirip nggak?”
Indra, dengan gaya khasnya yang d i n g i n, hanya mengangkat bahu. “Kebetulan aja, Yang. Dia tetep nggak sebanding sama kamu.”
Ucapan itu m e n g g u n c a n g Anya lebih dari yang bisa ia akui. Jantungnya terasa d i c e k ik. Seolah delapan tahun itu... hanya mimpi yang terlalu panjang dan terlalu sia-sia.
Ia mundur selangkah, hendak permisi dan pergi. Tapi Lalita menahan langkahnya.
“Lavanya... aku belum sempat ngobrol banyak sama kamu, tapi makasih ya udah bantu Bli Indra selama ini. Apalagi pas aku jauh. Aku tahu dia perfectionist dan... keras, kamu pasti kewalahan, ya?”
Lalu ia pergi.
Langkahnya cepat. Napasnya s e s a k. Ia menahan semuanya—air mata, a m a r a h, dan harga dirinya—sampai tiba di loker wanita. Ia membuka pintu toilet dan mengunci diri di dalam bilik pertama.
Di sanalah, akhirnya... semua yang ia tahan r u n t u h. Isak kecil p e c a h. Dada yang s e s a k meledak.
Ia menutup mulut, menengadah, menahan n a p a s agar tangisnya tidak terdengar.
Setelah cukup lama, ia menarik n a p a s panjang, lalu mengambil ponselnya.
Beberapa detik. Dua dering.
Sambungan tersambung. Suara di seberang d i n g i n dan tegas.
“Kenapa kamu nelpon?”
Anya menelan ludah, suaranya serak tapi tegas.
“Me... lamaran dari keluarga Dewa Aditya... langsung terima saja. Dalam sebulan aku pulang.”
Baca selengkapnya di Aplikasi KBM
Judul : Mengapa Bukan Aku?
Penulis : Mariamercy_
































































