cerita fiksi ala RaniaBiru
*Jejak Masa Lalu: Pesan Terakhir di Kyoto".*
Episode 7: Tiket Satu Arah
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggiran Surabaya, Lintang duduk menyendiri. Di depannya tergeletak paspor baru dan tiket pesawat satu arah menuju Bandara Kansai. Setelah menyusup ke reruntuhan gedung Lintang International kemarin, ia berhasil meretas data terakhir yang menunjukkan bahwa aset ayahnya benar-benar telah dikuras habis oleh faksi pemberontak dari "Gang Hitam" di Jepang.
"Kamu yakin dengan ini, Lintang?" tanya bibinya pelan. Sang bibi menatap keponakannya dengan cemas, namun juga bangga melihat keteguhan hati di mata Lintang.
"Ibu ditawan karena rahasia perusahaan itu, Bibi. Dan rahasia itu ada di gelang yang Ibu pakai. Aku tidak punya pilihan lain," jawab Lintang dalam bahasa Jepang yang sangat fasih, membuat beberapa pelanggan warung menoleh heran.
Lintang mengencangkan ikatan sepatu botnya. Ia sudah menjual motor tuanya untuk tambahan biaya hidup di Jepang nanti. Di dalam tas punggungnya, selain laptop dan peralatan retas, terselip sabuk hitam taekwondonya. Ia tahu, di Kyoto nanti, ia tidak hanya akan bertarung melawan kode komputer, tapi juga melawan orang-orang berbahaya yang pernah dilawan ayahnya.
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan Surabaya, Lintang berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan pulang sebelum berhasil memeluk ibunya dan mengungkap pesan terakhir yang ditinggalkan ayahnya di Kyoto.
Episode 8: Aroma Kenangan di Gang Kyoto
Kyoto menyambut Lintang dengan udara dingin yang menusuk tulang. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Surabaya, Lintang dan bibinya menyewa sebuah kamar kecil di penginapan tradisional yang tersembunyi di balik gang-gang sempit distrik Gion.
Malam itu, Lintang keluar sendirian untuk mencari udara segar sekaligus memetakan wilayah. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu kayu geser dengan papan kecil bertuliskan "Komorebi Coffee". Saat pintu terbuka, aroma biji kopi yang dipanggang sempurna langsung menyeruak—aroma yang sangat identik dengan kafe langganannya di Bandung.
Di balik meja bar kayu yang estetik, seorang pemuda Jepang dengan apron cokelat sedang sibuk mengoperasikan mesin espresso. Gerakannya tenang dan presisi.
"Selamat malam. Mau mencoba special blend hari ini?" tanya pemuda itu dengan suara rendah yang hangat.
Lintang terpaku sejenak. Entah karena lelah atau rindu suasana rumah, ia merasa sangat nyaman di sana. Ia memesan kopi hitam tanpa gula. Saat barista itu menyerahkan cangkirnya, mata mereka bertemu. Ada ketenangan di mata barista itu yang seolah bisa meredam badai amarah di hati Lintang.
"Kau terlihat seperti baru saja menempuh perjalanan ribuan mil, O-jo-sama," ucap sang barista sambil tersenyum tipis.
Lintang hanya terdiam, namun hatinya sedikit menghangat. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia, ia merasa tidak perlu bersikap waspada. Tapi ia tahu, ini hanya persinggahan sementara. Di balik gelang ibunya yang ia cari, ada rahasia yang bisa menghancurkan ketenangan kafe ini jika ia tidak berhati-hati.#ceritafiksiraniabiru #MyJourney #BudeLemon8 #DiskusiYuk


![si kembar [Episode 18]: Misi Penyelamatan Keluarga](https://p16-lemon8-cross-sign.tiktokcdn-eu.com/tos-alisg-v-a3e477-sg/oA80clE2AEA4A2MggEiKkQcBjfaALkyiBeCAmI~tplv-sdweummd6v-shrinkf:640:0:q50.webp?lk3s=66c60501&source=seo_middle_feed_list&x-expires=1818828000&x-signature=WLXMU7ws%2F9eGhxL6m2sTApq9pG0%3D)

![[Si kembar Epi:22]: Lonceng Kristal Kejujuran](https://p16-lemon8-cross-sign.tiktokcdn-eu.com/tos-alisg-v-a3e477-sg/ok6KDA4GSEgedfgLIAAIWJIU7DhceXOAsbQqBj~tplv-sdweummd6v-shrinkf:640:0:q50.webp?lk3s=66c60501&source=seo_middle_feed_list&x-expires=1818828000&x-signature=CvTi4s%2Fr8AhnRSPdtfLb2lJs5qg%3D)
















































